MONUMEN NANI WARTABONE

Monumen Pahlawan Nani Wartabone terletak di Alun-alun Gorontalo, atau yang lebih dikenal dengan Lapangan Teruna Remaja, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Indonesia

Pernah mendengar Proklamasi Kemerdekaan tanggal 23 Januari 1942? Mungkin tidak, sebab Proklamasi Kemerdekaan Indonesia baru dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Siapa sangka, tiga tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu, ribuan kilo jauhnya dari Jakarta, di Kota Gorontalo telah diproklamirkan kemerdekaan lepas dari belenggu penjajahan Belanda. Tentu bukan oleh Soekarno dan Hatta, melainkan oleh Nani Wartabone, seorang patriot pejuang kelahiran Kampung Suwawa, Gorontalo. Untuk mengenang jasa dan perjuangan Nani Wartabone itulah, pada tahun 1987 Drs. A. Nadjamudin, Walikota Gorontalo ketika itu, membangun Monumen Nani Wartabone yang terletak di tengah Alun-alun Gorontalo, tepat di depan rumah Dinas Gubernur Provinsi Gorontalo saat ini. Kisah perjuangan Nani Wartabone memang cukup panjang, membentang dari jaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, hingga penumpasan berbagai pemberontakan di daerah Gorontalo, seperti pemberontakan PRRI/Permesta dan G 30 S/PKI. Menurut Taufik Polapa (dalam www.gorontalomaju2020.blogspot.com), perjuangan Nani Wartabone dimulai sejak usia 16 tahun, ketika ia menjadi sekretaris Jong Gorontalo di Kota Surabaya pada tahun 1923. Lima tahun kemudian, Nani Wartabone dipercaya menjadi Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI).

Sebagai aktivis, Nani Wartabone dikenal sebagai pejuang anti-penjajah. Oleh sebab itu, setelah mengetahui rencana Belanda yang akan membumihanguskan Gorontalo pada 28 Desember 1941 (karena Belanda mengetahui kekalahan pihak Sekutu dari Jepang pada perang Asia-Pasifik), bersama warga Gorontalo Nani Wartabone kemudian melakukan perlawanan rakyat. Setelah hampir satu bulan melakukan perlawanan di pinggiran kota, akhirnya pada 23 Januari 1942 Nani Wartabone dan rakyat Gorontalo bergerak mengepung kota. Pukul lima subuh, Komandan Detasemen Veld Politie WC Romer dan beberapa kepala jawatan yang ada di Gorontalo menyerah. Setelah para petinggi Belanda tersebut ditangkap, pukul 10 pagi tanggal 23 Januari 1942, Nani Wartabone memimpin langsung upacara pengibaran bendera merah putih yang diiringi dengan lagu Indonesia Raya di halaman Kantor Pos Gorontalo. Usai proklamasi tersebut, Nani Wartabone kemudian memimpin rapat pembentukan Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo (PPPG), dan ia terpilih sebagai ketuanya. Sekitar satu bulan setelah proklamasi tersebut, pada tanggal 26 Februari 1942, Jepang mulai mendarat di Pelabuhan Gorontalo. Sebagai Ketua PPPG, Nani Wartabone menyambut baik kedatangan Jepang dengan harapan mereka akan membantu perjuangan mempertahankan kemerdekaan Gorontalo. Namun, pada kenyataannya Jepang tidak lebih baik dari Belanda, sehingga Nani Wartabone harus menyingkir ke kampung halamannya di daerah Suwawa. Nani Wartabone lalu difitnah, bahwa ia sedang melakukan pemberontakan terhadap Jepang. Akibatnya, pada tanggal 30 Desember 1943 ia ditangkap dan dibawa ke Manado. Nani Wartabone baru dilepaskan pada 6 Juni 1945, saat tanda-tanda kekalahan Jepang dari Sekutu mulai tampak.


Dua bulan kemudian, saat Jepang benar-benar kalah dari Sekutu, pada tanggal 16 Agustus 1945 (sehari sebelum Proklamasi Kemerdekaan di Jakarta), kekuasaan Jepang di Gorontalo diserahkan kepada Nani Wartabone. Sejak saat itulah bendera Merah Putih kembali berkibar di tanah Gorontalo. Karena minimnya peralatan telekomunikasi ketika itu, berita tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta baru sampai di Gorontalo pada 28 Agustus 1945. Selain sebagai pejuang kemerdekaan, Nani Wartabone juga dikenal sebagai pemimpin daerah, antara lain pada tahun 1950-an ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Pemerintahan di Gorontalo, menjabat sebagai Kepala Daerah Sulawesi Utara, dan pernah pula menjadi anggota DPRD Sulawesi Utara. Selepas memangku berbagai jabatan penting itu, Nani Wartabone memilih tinggal di kampungnya, di Desa Suwawa sebagai petani. Nani Wartabone meninggal pada tanggal 3 Januari 1986, dan dikebumikan di Desa Bube Baru, Kecamatan Suwawa.

Mengunjungi Monumen Nani Wartabone, Anda akan diajak untuk mengenang sosok pejuang kelahiran Gorontalo yang mampu melepaskan diri dari cengkraman penjajah. Nani Wartabone memang pejuang sejati bagi rakyat Gorontalo. Meskipun namanya tidak setenar tokoh atau Pahlawan Nasional lainnya, namun melalui perjuangannya, kita tahu bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 bukanlah proklamasi kemerdekaan yang pertama. Dengan mengetahui sejarah perjuangan Nani Wartabone, pengunjung dapat membandingkannya dengan sejarah perjuangan Nasional Indonesia.Karena jasa-jasanya, pahlawan dari Gorontalo ini tercatat memperoleh berbagai tanda jasa dan penghargaan dari pemerintah RI, mulai dari `Surat Penghargaan Membantu Gerakan Angkatan Perang RI`, `Perintis Kemerdekaan`, `Veteran Pejuang Kemerdekaan Indonesia`, serta `Bintang Mahaputra Utama`. Pada tahun 2003, Nani Wartabone ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 085/TK/Tahun 2003, tertanggal 6 November 2003. Penghargaan ini diserahkan oleh Presiden Megawati kepada salah seorang anak Nani Wartabone, yaitu Hi Fauzi Wartabone, di Istana Negara pada tanggal 7 November 2003. Selain menyimak perjalanan sejarah Nani Wartabone, wisatawan juga dapat menikmati suasana di kawasan Monumen Nani Wartabone ini. Monumen Nani Wartabone terletak di tengah Alun-alun Kota Gorontalo, sehingga menjadi salah satu pusat keramaian dan ruang publik di Kota Gorontalo. Masyarakat Gorontalo biasanya menggunakan tempat ini untuk berkumpul bersama keluarga atau teman terutama pada hari-hari libur.

Monumen Nani Wartabone terletak di pusat kota Gorontalo. Untuk menuju Kota Gorontalo, wisatawan dari luar Gorontalo dapat menempuh berbagai moda transportasi, baik transportasi udara (pesawat terbang), transportasi laut (kapal Pelni), atau transportasi darat (bus antar-kota). Untuk transportasi udara, saat ini Bandar Udara Djalaluddin Gorontalo telah melayani penerbangan dari dan ke berbagai kota di Indonesia, seperti penerbangan Jakarta-Palu-Gorontalo, Manado-Gorontalo, maupun Makassar-Gorontalo. Apabila memilih memanfaatkan jasa kapal laut, wisatawan dapat mendarat di Pelabuhan Gorontalo atau di Pelabuhan Anggrek Kwandang, di Kabupaten Gorontalo. Secara reguler, kapal penumpang seperti KM Umsini, KM Kambuna, KM Tilongkabil, serta KM Awu menyinggahi kedua pelabuhan laut tersebut. Sementara jika ingin menggunakan jasa transportasi darat, wisatawan dapat menempuh perjalanan dari kota-kota utama di Pulau Sulawesi, seperti Manado, Bitung, Kotamobagu, Palu, Poso, Parepare, atau Makassar dengan menggunakan bus besar atau bus DAMRI. Di Gorontalo terdapat dua terminal, yaitu Terminal 1942 di Kota Gorontalo, dan Terminal Isimu di Kabupaten Gorontalo. Dari dua terminal ini, wisatawan dapat menggunakan jasa mikrolet, bendi, bentor (bendi motor), maupun ojek untuk menuju pusat kota Gorontalo.

Sumber : http://www.gorontalofamily.org/wisata-sejarah/monumen-nani-wartabone.html

© 2017 All rights reserved. Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo 
Layout dan design by Iswan Febriyanto

TRAVEL GUIDANCES
  • Destinasi
  • Wisata Alam
  • Wisata Sejarah
  • Wisata Religi
  • Paket Tour
WHAT'S HAPPENING
  • Berita
  • Event
  • Tips & Trik
WHAT'S HAPPENING
  • Destinasi
  • Wisata Alam
  • Wisata Sejarah
  • Wisata Religi
  • Paket Tour

© 2017 All rights reserved. Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo 
Layout dan design by Iswan Febriyanto

  • Wisata Alam
  • Wisata Sejarah
  • Wisata Religi
WHAT'S HAPPENING
  • Berita
  • Event
  • Tips & Trik
WHAT'S HAPPENING
  • Destinasi
  • Wisata Alam
  • Wisata Sejarah
  • Wisata Religi
  • Paket Tour